Frecy F. Daswaty

Post by Eva Martha Rahayu, Nov 30, 2016 .

Pesatnya perkembangan industri e-commerce berhasil membuat Frecy Ferry Daswaty jatuh hati. Tak pelak, wanita kelahiran Jakarta, 18 Juli 1988 ini memutuskan bekerja di Faspay, payment gateway besutan PT Media Indonusa. Padahal, sebelumnya Frecy sudah mendedikasikan waktunya 4,5 tahun bekerja di The London School of Public Relations (LSPR) dengan jabatan terakhir Deputi Manajer Komunikasi Korporat sekaligus dosen mata kuliah Public Relations tingkat S-1.Terhitung tahun 2014, Frecy resmi bergabung dengan Faspay dengan posisi Head of Marketing Communication. Pada Juni 2016, ia diberi tantangan baru untuk menempati posisi Vice President Merchant Acquisition and Partnership sekaligus VP Marketing Communication Faspay. Tugasnya, melakukan aktivitas akuisisi, menjaga hubungan baik dengan para merchant agar kebutuhan mereka terpenuhi dan puas dengan layanan Faspay. Selain itu, ia juga bertanggung jawab untuk aktivitas branding Faspay. Menurut lulusan S-1 Public Relations dan Magister Marketing Communication LSPR itu, semula banyak masyarakat yang tidak tahu Faspay itu apa. “Tadinya orang lebih kenal dengan nama PT Media Indonusa, bukan Faspay. Awalnya kami bergerak sebagai penyedia jasa sistem integrator untuk mobile banking BCA, Bank Mandiri, dan Telkomsel. Karena segmennya B2B, jadi nama kami tidak terdengar,” tutur pehobi jalan-jalan ini.Lalu, tahun 2010 Indonusa memperluas pasar menjadi payment gateway. Faspay tidak langsung bergerak sendiri di e-commerce, melainkan menyokong kebutuhan pembayaran e-commerce dan kebutuhan lain yang terkait dengan pembayaran industri online. “Di 2014 barulah kami branding Faspay mulai dari penulisan Faspay di kartu nama dan website,” kata Frecy.Berbeda dari payment gateway lain yang beriklan besar-besaran, Faspay lebih melakukan hubungan dengan bank, sehingga akuisisi berbarengan dengan bank. Saat ini, sudah ada 500 merchant dan terus bertambah. Selain menargetkan e-commerce, Faspay pun menargetkan hotel untuk menyediakan online booking.Bagi Frecy, koneksi Internet menjadi tantangan terbesar di dunia e-commerce karena menghubungkan tiga pihak, yaitu bank, merchant, dan Faspay. Ketika pengguna melakukan transaksi, ketiga pihak ini harus saling terhubung. Masalah yang sering ditemui saat konsumen berbelanja di salah satu situs e-commerce adalah sinyal kurang bagus. Akibatnya, saat proses pembayaran koneksi Internetnya terputus, tetapi pengguna tetap kena charge. Sebagai atasan, Frecy merasa beruntung memiliki tim yang bisa mendukungnya. Kebetulan akuisisi partner dan marketing communication berada di satu departemen di bawahnya, sehingga bisa menggantikan satu sama lain. Ia membawahkan 10 anggota tim dan menerapkan gaya kepemimpinan yang top down, serta saling berdiskusi untuk sama-sama menambah ilmu.Ke depan, ia ingin menjadi salah satu key person yang memberikan sumbangsih bagi kemajuan perusahaan di mana saja dirinya bekerja. Saat ini, Frecy memiliki usaha sampingan berupa dekorasi dan penyewaan kotak untuk seserahan yang bernama Sangjitan. Bisnis yang dimulai per September 2016 ini berawal dari pengalaman pribadi ketika menyiapkan pernikahannya. Waktu itu, ia kebingungan mencari tempat untuk mendekorasi seserahan, sehingga muncullah ide untuk membuat usaha dekorasi seserahan sendiri. “Bisnis ini saya kerjakan sendiri di akhir pekan bersama suami. Saat ini, respons yang didapat bagus sekali dan sampai sekarang sudah ada lima konsumen yang memakai jasa Sangjitan,” ujarnya sembari tersenyum.Eva M. Rahayu/Maria H. Azzahra