Sky Ark Wadahi Musisi Indie Indonesia

Post by Tiffany Diahnisa, Sep 30, 2016 .

“Kami melihat banyak potensi di bidang musik di Indonesia, tidak hanya dari jumlah musisi tapi juga track record yang mumpuni, seperti Gugun Blues Shelter dan Joey Alexander. Lalu ada juga musisi indie seperti Efek Rumah Kaca, White Shoes & Couple Company. Secara musikalitas mereka sudah diakui, tetapi secara industri kurang stand up. Jika berbicara di kawasan Asia Tenggara, musisi lain menganggap musisi Indonesia menjadi kiblat. Tetapi masih ada isu musisi hidupnya kurang berkecukupan, lalu ada masalah juga pada industri publishing,” tegas Astrio Feligent, CEO Sky Ark membuka percakapan.Ide besar pun tercetus dari Astrio dan kedua temannya yaitu Kenny Rahmat (COO Sky Ark), dan Richard Welangi (CMO Sky Ark). Mereka membuat Sky Ark pada November 2015, sebuah online marketplace yang mempertemukan secara langsung antara musisi dan calon konsumen. Format Sky Ark Music dapat dikatakan seperti penggabungan antara Myspace dan Soundcloud, dengan konsep marketplace.Tujuan mereka melalui Sky Ark bukanlah menjadi sebuah perusahaan label rekaman atau produser bagi para musisi. Tetapi bagaimana membuat para musisi ini, bisa mendapat leveraging brand untuk “unjuk gigi”. Mereka semakin dipermudah dengan pasar yang sudah terbentuk. Artinya,  bukan hanya dari sisi musisinya saja yang banyak, dan tapi pasar dalam hal ini masyarakat menengah ke atas juga membutuhkan, yaitu mengundang musisi ke berbagai acara seperti acara ulang tahun, wedding, atau private party.Menurut Astrio,  selama ini cara konsumen mem-booking musisi untuk sebuah acara adalah melalui channel secara tidak langsung, umumnya melalui event organizer (EO), rekan lain, dan manager. Padahal, ketiga channel tersebut memiliki masalah, yaitu pilihan konsumen menjadi terbatas, misalnya mereka ingin menikah, EO sudah memiliki musisi yang memang sudah mereka siapkan. Namun yang dipertanyakan adalah apakah kualitas musisi sesuai dengan kebutuhan konsumen misalnya dari segi genre musik.Kedua, musisi banyak dirugikan, karena tidak ada transparansi. Harga mereka ditentukan oleh agensi band, yang dihubungi langsung oleh kafe tempat mereka diminta manggung. Kesepakatan soal angka biasanya tak diketahui musisi dengan pasti. Sky Ark sendiri menyasar para musisi Indie, karena dianggap merupakan gambaran musisi yang sesungguhnya, di mana tidak dibawahi oleh label-label rekaman besar di Indonesia.Mereka mendekati musisi dengan cara door to door. “ Kami datang dari satu kafe ke kafe lainnya di Jakarta, dari satu event ke event lainnya. Selanjutnya kami lakukan mapping untuk mendekati musisi tersebut. Beberapa kafe seperti Pisa Kafe, Menteng dan Albero, Tebet memiliki kualitas musisi indie yang dapat dikatakan baik,” tambah Kenny.Akan tetapi, manfaat yang ditawarkan Sky Ark, tidak begitu saja membuat para musisi merasa yakin, terutama musisi yang sudah memiliki kualitas tinggi. Banyak musisi yang memutuskan tidak mau bergabung karena belum merasa butuh. Satu bulan pertama 80 persen dari musisi kafe yang ditawari tidak mau ikut bergabung. Hal ini karena musisi takut ‘dijahili’ oleh pihak ketiga.