Kevin Aluwi

Post by Eva Martha Rahayu, Jul 31, 2016 .

Melambungnya nama Gojek tidak lepas dari sosok Kevin Aluwi. Pasalnya, pria kelahiran Jakarta, 1 September 1986, ini salah seorang co-founder startup penyedia aplikasi jasa ojek online itu. “Tahun 2014 saya diajak Nadiem Makarim bergabung ke Gojek dengan visi baru. Tetapi, konsep Gojek tetap sama, yaitu membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan tukang ojek di Indonesia,” ujar Kevin yang didapuk sebagai Chief Financial Officer (CFO) Gojek.Tugasnya sebagai CFO adalah membangun tim finance dan accounting yang andal hingga berhubungan dengan investor untuk mencari suntikan dana. Setelah hampir dua tahun jadi CFO, kini Kevin mengklaim dalam masa transisi sebagai chief information officer (CIO). “Jadi, saya sedang perpindahan posisi untuk menjadi CIO yang lebih ke arah fokus data dan bisa menciptakan suatu platform yang memungkinkan semua orang di organisasi ini memiliki akses ke data yang berguna untuk fungsi masing-masing. Sebab, sekarang pertumbuhan Gojek sangat luar biasa,” ujar eksekutif yang mengaku tidak memiliki hobi gara-gara terjebak rutinitas kesibukan pekerjaan ini.Salah satu buah pemikiran Kevin di Gojek adalah ide solusi dalam menggunakan Rekening Ponsel untuk mendistribusikan pembayaran kepada pengemudi. “Waktu itu, kami kebingungan untuk sistem pembayaran kepada driver bentuknya seperti apa,” ia menuturkan. Maklum, bila transaksi pengemudi dikumpulkan dan diberikan dalam bentuk tunai, itu akan memerlukan tempat yang luas sekali dan manajemen Gojek harus memegang uang dalam jumlah besar setiap hari. Akhirnya, ditemukan mitra dengan menggandeng salah satu bank.Diakui Kevin, di awal-awal perjalanan Gojek, banyak sekali tantangan yang dihadapi, mulai dari sulitnya mengajak orang bergabung dengan Gojek hingga persaingan bisnis yang tajam dari kompetitor lantaran berasumsi bisa memenangi pasar dengan uang (subsidi). Jadi, beban terhadap keuangan Gojek juga menjadi lebih besar. “Nah, saya sebagai CFO dan tim harus selalu mengawasi sisa uang kami berapa setiap hari dan dipantau terus. Kami juga harus fokus mencari investor yang bisa membantu dengan visi sama dan memiliki keberanian sama untuk bersaing dengan kompetitor agresif,” Kevin menjelaskan. Tantangan selanjutnya adalah Kevin dan tim harus bisa memastikan dan memonitor penggunaan dana dan memastikan investor punya modal yang cukup. Juga, bagaimana caranya agar ke depannya modal yang ada ini bisa kembali, atau mengembalikan proses subsidi yang selama ini dilakukan. Tantangan terakhir adalah memastikan laporan keuangan terjadi secara teratur dan akurat. Bagaimana cara menghadapi tantangan itu? Dari persoalan yang ada, menurut Kevin, dia dan tim membangun tim keuangan yang kuat dan mampu meningkatkan kualitas laporan keuangan agar rapi, akurat dan dipercaya penyandang dana. Tujuannya, semua pihak bisa benar-benar mengerti biaya yang keluar itu untuk apa saja, apakah ada kredit, apakah ada dana yang dipinjamkan, dan sebagainya.Meski banyak tantangan dalam melakoni profesinya, Kevin mampu mengatasinya. Hal ini karena ia sudah memiliki jam terbang cukup di dunia bisnis, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Setamat kuliah S-1 Corporate Finance Entrepreneurship dan International Relations (2005-09) dari University of Southern California-Marshall School of Business, Amerika Serikat, dia sempat bekerja di industri perbankan di Los Angeles. Lalu, tahun 2011 dia kembali ke Tanah Air dan bekerja di startup Merah Putih Inkubator. Selanjutnya, pada 2012 dia bergabung dengan e-commerce Zalora sebagai Head of Business Intelligence.Untuk target karier ke depan, Kevin belum punya bayangan. “Kalau target untuk Gojek sesuai dengan visi kami menjadi platform untuk memberdayakan sektor informal. Kami ingin mengangkat teknologi, meningkatkan layanan ojek online, meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan tukang ojek, memajukan ekonomi informal, dan membuat mudah alternatif transportasi masyarakat Indonesia,” Kevin menguraikan harapannya. (*)Eva M. Rahayu/Nerissa AvrianaRelated