Ngedot ala Empat Sekawan

Post by Nerissa Arviana, Oct 31, 2016 .

Ngedot di Jabodetabek identik dengan minum susu yang dilakukan anak balita. Namun, bagi empat sekawan — Adriansyah Yudha, Reza Abadi, Budi Mulyadi dan Heru Nugroho — kata “ngedot” bisa dimanfaatkan sebagai merek kuliner yang menjual. Hal itu sudah mereka lakukan melalui resto susu dan roti bakar/roti cubit dengan bendera Warung Ngedot. Gerainya sudah ada di Cibubur, Cinere, Pos Pengumben, Seskoal, serta Cileduk (Petukangan), dan selalu ramai pengunjung.Warung Ngedot Cibubur, gerai pertama, dirintis pada November 2014. Adapun Warung Ngedot Cileduk mulai jalan 18 April 2015. “Setiap outlet Warung Ngedot kepemilikannya berbeda-beda. Kami berempat bisa menggandeng mitra yang berbeda,” kata Yudha. Empat sekawan ini tertarik menjadikan kata “ngedot” sebagai merek karena selain sudah melekat di benak orang, juga menawarkan kesan unik dan berbeda dari pesaing.Warung Ngedot menyediakan menu andalan berupa minuman susu murni yang diambil langsung dari peternak di Bogor. “Ini asli, tidak ada proses pasteurisasi terlebih dahulu. Kualitas, gizi dan kesegaran susu murni ini terjaga dan fresh,” ujar Budi. Empat sekawan ini ingin mengampanyekan Warung Ngedot sebagai tempat minum susu dan camilan sehat. Selain itu, setiap gerai juga punya menu khas lokal. Misalnya, menu lokal gerai di Petukangan adalah dimsum, otak-otak dan empek-empek. Kemudian di Cibubur, pie susu; di Seskoal, rujak cireng; di Cinere, risol; dan di Pos Pengumben, nasi goreng dan ayam. “Keunikan lainnya adalah pada desain dinding yang bermotif seperti kulit sapi perah,” kata Yudha. Tampak sekali empat sekawan ini sangat kompak dalam berkongsi. Dalam memodali usaha, keempatnya juga berbagi rata. Misalnya, saat membuka Warung Ngedot Petukangan yang butuh modal Rp 70 juta, termasuk untuk sewa lahan di bulan pertama. “Kami sepakat dibagi rata untuk modal ini. Masing-masing punya cara tersendiri untuk mengumpulkan uangnya. Reza sempat menggadai gitar dan menjual handphone untuk mulai usaha ini,” Budi mengungkapkan.Selama ini konsumen yang paling sering datang di gerainya mayoritas anak muda usia 16-27 tahun. Untuk promosi, mereka mengandalkan kreativitas dan media sosial seperti Instagram. Saat ini mereka juga sedang melakukan promo. Jadi, yang nge–tag ke Instagram Warung Ngedot Petukangan dan menunjukkannya saat membeli akan diberi diskon 10%. Lalu, kalau mem–follow, juga akan mendapat diskon 10%. Harga menu per item di Warung Ngedot berkisar Rp 10.000-20.000. Dalam sehari rata-rata menghabiskan susu 30-40 liter. Satu liter susu bisa dibuat untuk empat porsi. Dalam sehari bisa mendapat penjualan 40 nota transaksi. Satu nota pemesanan nilainya Rp 75-100 ribu. “Kami juga ada delivery order untuk jarak maksimal 1 km dari Warung Ngedot. Ini untuk menjawab kebutuhan customer yang ingin jajan di tempat tetapi malas keluar rumah, misalnya karena hujan. Syarat minimum order Rp 50.000,” papar Yudha.Yang pasti, empat sekawan ini merasa menemukan hasrat baru dengan berbisnis bersama, selain pertemanan menjadi lebih akrab. “Kami seperti menemukan rumah baru,” ungkap Heru. Mereka sepakat akan terus membuka peluang kerja sama bagi mitra yang tertarik berkongsi agar makin banyak pelanggan yang datang ngedot di gerai mereka. (*)