The Bride Dept, Solusi Inspirasi Pernikahan

Post by Dyah Hasto Palupi, Mar 31, 2017 .

Pengalaman kelimpungan mencari vendor untuk acara pernikahan yang harus digelar dengan adat Minang, sementara saat itu ia sedang menjalani pendidikan di luar negeri, sangat membekas di benak Putri Arinda. Ia merasakan sulitnya mengumpulkan informasi pernikahan –salah satu peristiwa penting dalam kehidupan– sehingga bertekad membuat bisnis yang bisa membantu pasangan yang hendak menikah seperti dirinya.Tekad itu terwujud beberapa tahun kemudian dengan mendirikan The Bride Dept, katalog online informasi vendor dan inspirasi konsep pernikahan. Bersama sahabatnya, Friska Ruslim, Putri melihat peluang besar sebagai penyedia informasi yang lengkap dan terpercaya berbagai vendor dan inspirasi konsep pernikahan untuk para calon pengantin.Menurut wanita mungil yang berusia 26 tahun itu, momen pernikahan membutuhkan persiapan detail dan banyak sekali: tempat, katering, foto pernikahan, penata rias, baju pengantin, dan sebagainya. Semua itu harus disiapkan dengan matang, dan pemakai jasa harus bisa menyeleksi vendor agar tidak salah. “Karena kalau salah, akan mengakibatkan kekecewaan seumur hidup,” ungkapnya. Apalagi, jika konsep pernikahan yang ingin digelar adalah pernikahan adat dan tradisional. “Ada banyak upacara, baju pengantin dan dekor khusus yang harus disiapkan.”Selain itu, ia menghitung, setiap tahun ada 1 juta pernikahan yang terjadi di Indonesia. “Setiap tahun , puluhan orang browsing melalui Google atau mendatangi pameran dan gedung-gedung pernikahan untuk mencari gambaran,” kata wanita yang pernah berkarier sebagai Manajer Produk L’Oreal itu. Dengan demikian, Putri yakin, berbisnis informasi vendor dan konsep pernikahan pasti menggiurkan. Benar juga dugaannya. Dari awal berdiri 2014, The Bride Dept langsung dibanjiri pengunjung. Berdua dengan Friska, Putri yang kini sudah memiliki tim beranggotakan belasan orang menata tren kebutuhan pengunjung. “Kami ini bukan portal e-commerce, jadi tidak ada transaksi di dalamnya. Yang kami listing informasi vendor, bukan barang-barangnya,” katanya. Ia menegaskan TheBrideDept.com fokus 90% memberikan informasi tentang pernikahan tradisional. Sementara portal wedding lainnya didominasi pernikahan internasional. “Kami membahas detail seluk-beluk pernikahan tradisional di website kami,” kata Friska. Bahkan untuk mendukung artikelnya agar kuat, mereka mewawancarai para ahli di tiap daerah untuk pernikahan adatnya.Friska mengatakan, kekuatan TheBrideDept sebagai information provider traditional wedding ini membedakannya dengan portal sejenis. Salah satu upaya menaikkan awareness, mereka mengadakan event offline setiap tahun. “Tahun 2015 kami mengadakan wedding exhibition di Grand Indonesia. Tahun 2016 kami mengadakan Closet Swap di Kuningan City Mall, dengan konsep yang berbeda dengan pameran di Grand Indonesia karena bukan sekadar wedding exhibition,” kelahiran 1990 ini menjelaskan.Seperti portal informasi lain, revenue stream TheBrideDept.com dari iklan. Bisa dalam bentuk banner advertising, juga bisa menyisipkan nama vendor dalam artikel-artikel yang sesuai. “Revenue stream lain kami dapat dari wedding directory, ini semacam online katalog,” ujar Putri. Ia menyebut monetize TheBrideDept.com mirip yang dilakukan Google. Jadi, kalau vendor ingin ada di lembar depan pencarian mereka, tentu harus membayar listing fee. Ada hampir 2.000 vendor di katalognya, mulai dari katering, gedung, makeup artist, fotografi, cenderamata, kain, perlengkapan pernikahan (baju dan aksesori), musik, dekorasi, dan sebagainya. Untuk mendekati vendor, mereka memiliki tim pemasaran sendiri.Dalam direktori tiap vendor bisa memasukkan portofolio kerja mereka. Vendor bisa melihat siapa saja yang visit ke direktorinya. “Jika tidak ada price list, pengunjung bisa mengirim pesan melalui direktori itu ke vendor,” kata Friska. Listing fee-nya berbeda antarvendor, Rp 1 juta-2 juta. Menariknya, direktori vendor ini terintegrasi dengan fitur-fitur pernikahan yang ditulis di halaman The Wedding. Tema yang menarik atau konsep yang bagus biasanya bisa menginspirasi pengunjung. Pengantin juga bisa mengirimkan cerita pernikahan mereka di portal.Putri menyebutkan, bisnisnya sudah break even point saat ini. Ini karena ia dan Friska sangat hati-hati dalam pengeluaran, karena investasinya dari kocek sendiri. Putri bersyukur respons vendornya positif. “Saya bersyukur vendor dapat klien lebih banyak menurut pengakuan mereka. Pengantin juga happy menemukan cara yang lebih mudah untuk mempersiapkan pernikahan mereka,” katanya. Per bulan TheBrideDept ada 250-300 ribu view, sedangkan visitornya 80-90 ribu. “Kami belum agresif marketing-nya, ini oke banget,” kata Friska, sang Chief Bussiness Development Manager.Putri dan Friska berteman akrab sejak kuliah S-1 di Sekolah Bisnis Manajemen-Institut Teknologi Bandung. Pengalamannya di keuangan OCBC NISP dan Traveloka menurut Friska mendukung keinginannya mewujudkan rencana membuat katalog online dan portal informasi khusus pernikahan tradisional. Ketika itu, Putri kuliah S-2 Pemasaran Digital di New York University, Amerika Serikat, dan Friska kuliah S-2 Entrepreneur di Sydney University. Putri mengaku, mereka sebenarnya tidak memiliki latar belakang teknologi informasi yang menjadi syarat utama berbisnis online. “Tetapi, berbekal percaya diri dan memiliki visi, hambatan itu sirna,” ujar Friska tandas. “Bahkan , yang paling sulit dan mahal itu adalah mencari orang yang tepat dan memiliki visi sama, ” lanjutnya.Tahun ini rencananya mereka akan mengeluarkan The Wedding Book, buku khusus buat calon pengantin untuk mencatat apa saja dalam persiapan pernikahannya. Menurut Friska, ternyata banyak calon pengantin yang masih ingin menulis dan menggambar dengan buku, yang kelak jadi kenang-kenangan mereka. Targetnya, TheBrideDept.com akan bisa sebesar XO Group Inc., wedding online besar di AS, yang sudah melakukan IPO. Riset: Sarah RatnaJournalist : Bernadeta Pintarti