Tania Natasha

Post by Eva Martha Rahayu, Dec 31, 2016 .

Tidak memiliki latar belakang bidang kelistrikan dan minim pengalaman, bukan halangan bagi Tania Natasha untuk meniti karier lebih tinggi. Wanita kelahiran Jakarta, 17 Desember 1986 ini pun tidak menyangka jika sekarang dipercaya sebagai Direktur PT Hexing Technology. Hexing adalah perusahaan pembuat meteran listrik asal China.Di jajaran direksi Hexing, Tania adalah satu-satunya direktur termuda dan berkebangsaan Indonesia. Dia bertugas melayani konsumen, bertanggung jawab soal legal, tender, dan masih banyak lagi. Untuk meraih posisinya tersebut, Tania mengaku banyak belajar secara otodidak. “Orang-orang beranggapan posisi yang saya raih saat ini karena peran orang tua. Padahal, jabatan ini saya capai dengan kerja keras selama 6 tahun berkarier di Hexing Technology,” ungkap Tania yang pernah menjadi guru bahasa Inggris di China selama setahun, menegaskan.Tania mulai bergabung dengan Hexing tahun 2010. Dia sengaja memilih Hexing sebagai pelabuhan kariernya meski perusahaan itu tergolong baru dengan alasan khusus. Padahal, dia sudah mendapat tawaran bekerja di sebuah bank. “Target awal saya memang bekerja di perusahaan baru agar mudah belajar mengenai profesi tinggi seperti general manager ataupun direktur,” tutur profesional yang merintis karier dari posisi asisten itu. Jabatan awal itu sesuai dengan minatnya yang mengincar posisi personal assistant to general manager atau personal assistant to director, karena dapat belajar langsung dari atasan yang profesional.Pertama kali Tania bekerja di Hexing, jumlah karyawan masih 6 orang. Kebetulan tahun 2010, Hexing membuka pabriknya di Indonesia. Dan, Tania mengisi jabatan personal assistant to general manager. Setelah 8 bulan, ia menjabat sebagai manajer tender.Kesempatan menangani tender di Hexing tidak disia-siakan Tania dengan banyak belajar dan kerja keras. Hasilnya, hingga saat ini, Hexing selalu memenangi tender di PLN. Namun, dia merasa perlu terus belajar karena persyaratan tender PLN setiap tahun berubah. Juga, dia dituntut pandai dalam mengomunikasikan perubahan tersebut, dan perubahan kebijakan Pemerintah Indonesia kepada perusahaannya yang bermarkas di Tiongkok.Perbedaan kultur dan bahasa di level manajemen membuatnya harus bisa berkomunikasi dengan baik. Tania harus pandai-pandai dalam menjelaskan keputusan yang kadang tidak dimengerti oleh shareholder. Dia mencontohkan, bagaimana penggunaan konten lokal bisa berperan penting dalam kelangsungan bisnis Hexing di Indonesia. Dengan adanya penggunaan konten lokal, konsumen bisa lebih mudah mengecek produk bila terjadi masalah. Ini menjadi strategi dalam meraih kepercayaan pelanggan. Selain komunikasi dengan internal, Tania pun harus bisa mengomunikasikan bisnisnya dengan baik kepada konsumen. Sebab, produk China sering kali mendapatkan stigma negatif di masyarakat. Maka, pihaknya harus bisa membuktikan bahwa produk asal China bisa memberikan kualitas dan harga yang kompetitif. Kendati sudah menjadi direktur di usia 29 tahun, Tania tidak lekas puas. Ke depan, dia ingin meraih kesempatan karier lebih luas lagi, misalnya ke luar negeri. Juga, ingin mendirikan startup dan perusahaan sendiri. Untuk itu, dia mulai mencari ilmu baru demi mengasah kemampuannya. Targetnya, saat dia berumur 40 tahun, perusahaan yang akan dirintis sudah berkembang.Eva M. Rahayu/Aulia DhetiraJournalist : Irmina Irawati